rindusyurgaku

hidup akan lebih berarti bila dapat menjadi bagian orang lain

Kewajiban Istri Setelah Ditinggal mati Suami

Kabut Asap

Kabut Asap (Photo credit: Wikipedia)

Bismillahirrahmanirrahiim,

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Setelah ditinggal mati suami, apakah kewajiban-kewajiban seorang istri setelah itu dan kapankah sebaiknya dia diperbolehkan menikah dengan lelaki lain?

Hamba Allah, HK

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh,

Jika seorang wanita telah ditinggal mati suaminya, maka setidaknya ada tiga hal yang harus dilakukan.

1. Iddah. Masa menunggu dalam waktu yang telah ditentukan bagi seorang wanita yang ditinggal mati suaminya untuk menikah lagi selama empat bulan sepuluh hari, Akan tetapi jika dia hamil, maka iddahnyahanya sampai melahirkan anak.

2. Berkabung. Adalah sesuatu yang perlu dilakukan bagi orang sedang mempunyai iddah untuk tidak berhias, sehingga terlihat dan menarik orang lain. Contohnya dia memakai celak, memakai pakaian yang menyolok mata, wangi-wangian yang menimbulkan fitnah, pewarna kuku dan berhias. Imam Bukhori dan Imam Muslim telah meriwayatkan dari Ummi Habibah dan Zainab binti JAhsy bahwa Rasulullahsaw bersabda:” Wanita yang beriman kepada Allahdan Hari Kiamat tidak halal berkabung untuk orang yang meninggallebih tiga hari(tiga malam).”

3. Didalam rumah. wanita yang ditinggal wafat suaminya sebaiknya tinggal dirumah tempat suaminya meninggal selama masa Iddah, seperti yang diriwayatkan Farii’ah binti Malik:”Dan menghadap Rasulullah saw lalu memberitahukan bahwa suaminya wafat ketika mencari hamba sahaya yang hilang. Dia berkata:’Aku bertanya kepada Rasulullah saw untuk kembali kerumah keluargaku karena sesunggunya suamiiku tidak meninggalkan tempat tinggal yang dapat aku miliki, jika tidak meninggalkan nafkah.’ rasulullah saw bersabda:“Tinggallah kamu di rumahmu sampai habis masa iddahmu.’maka aku pun tinggal di sana empat bulan sepuluh hari.”(Abu dawud dan Tirmidzi).

Bagi istri yang sedang dalam kewajiban iddah, tinggal dirumahnya adadlah lebih baik dan lebih menenengkan keluarga yang ditinggalkan si mati. hal ini dimaksudkan untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang subhat. Walaupun begitu, dia boleh meninggalkan rumah jika ada kepentingan seperti kewarung, ke klinik dan lain-lain, sekiranya tidak ada orang yang dapat membelikannya dan juga melakukan pekerjaan yang biasa dia lakukan seperti guru, jururawat dan lain sebagainya. mereka yang sedang beriddah disarankan untuk tidak kaluar pada malam hari karena dikhawatirkan akan timbul prasangkayang bukan-bukan dari orang yang melihatnya. Jika masa iddahnya selesai, maka wanita tersebut menjadi bebas untuk menikah kembali dengan siapa saja yang mereka sukai; keluar rumah kemanapun yang dia kahendaki; dan berpakaian serta berhias apapun yang dia senangi. Orang lain bisa meminangnya dengan terus terang, tidak dengan kata-kata sindiran sebagaimana ketika si wanita itu masih dalam iddah, dan boleh mengadakan perkawinan jika mau. Allah SWT berfirman: “Orang-orang yang meninggal dunia diantaramu dengan meninggalkan istri-istri, hendaklah para istri itu beriddah selama empatbulan sepuluh hari. kemudian, apabila telah selesai iddahnya,maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat apa saja yang patut terhadap diri mereka. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan,”(Al-baqarah:234)

Wallahu a’lam.

Oleh: H. A. Muhaemin karim, MA

About these ads

August 22, 2012 - Posted by | Konsultasi Syariah | , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

2 Comments »

  1. apa hukum nya seorang anak yang melarang ibu/bapak nya untuk menikah lagi ?

    Comment by wiwik | November 7, 2012 | Reply

    • Bismillah,
      Menikah adalah salah satu sunah dalam kehidupan ini & upaya untuk menjaga keberlangsungan generasi. Menikah merupakan hak setiap orang. Baik bg setiap org yg sudah menikah/ blm menikah sesuai dg syariat yg berlaku seorang janda/ duda berhak untuk menikah lg^_^
      Jk anak2 keberatan terhadap pernikahan tersebut, perlu secara bijak dipikirkan siapa kiranya yg akan menemani ibu/ bapak melalui hari-harinya di masa tua, serta keluangan wkt yg dimiliki untuk menjenguk ibu/ bapak. Jk memang kondisinya memungkinkan, kunjungan rutin dapat dijadwalkan. Namun bila anak2 sendiri memiliki kesibukan masing-masing yang menyita waktu, perlu dipikirkan soal memberikan dukungan kepada ibu/bapak untuk memiliki kehidupan berkeluarga kembali.

      Comment by rindusyurgaku | November 7, 2012 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Mif19.tea's Blog

Just a Little Scientific Inspiration 4 You

KITa Call Indonesia

Seruan di Ufuk Fajar

Mrs Djones' Journey

Journey through marriage and motherhood~

d2cuthe blog

kesempatan tidak akan datang dua kali

Qalbunsalima's Blog

Hati yang damai, tentram dan sejahtera

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 287 other followers

%d bloggers like this: