rindusyurgaku

hidup akan lebih berarti bila dapat menjadi bagian orang lain

Air Mata Ibu

the prunus

the prunus (Photo credit: Michiel Thomas)

Bismillahirrahmanirrahiim,,

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,,

Sedikitpun tidak pernah terbayangkan dalam benakku kalau aku akan memiliki seorang ibu yang cacat dan tak sempurna secara fisik . Yah,,Siapa sih anak yang bersedia menerima kondisi tersebut . Kuyakin tak seorangpun menerimanya ,begitu pula diriku , Namun kenyataan pahit ini harus kuterima . Ibuku hanya memiliki sebelah mata . Aku benci,,aku benci keadaan ini . Kalau boleh , aku akan memilih untuk tidak dilahirkan dari rahim seorang wanita yang cacat .

Beliau memang kerap menasehatiku , kalau keadaan ini adalah suratan takdir yang harus dijalani dengan ikhlas . pffffuuuuaaaahhh,,takdir . Aku benci takdir . takdir apa yang menentukan kalau hidup seseorang harus menderita ?/Tuhankah yang mementukan ini ?/ kalau memang begitu , sungguh jahat Tuhan . Sudah capek-capek menciptakan manusia , tapi ditentukan hidup dalam kesengsaraan . Tidakkah itu kesia-siaan  belaka ?/ Apakah dengan hidup sengsara lantas Tuhan senang ?/

Naif,,,aku fikir itu bukanlah takdir tuhan . Tapi kekezhaliman yang dilakukan manusia terhadap manusia lain . Ya , ini semua kerena laki-laki yang menikahi ibuku . Kepergiannya yang tanpa kabardari rumah , telah meninggalkan penderitaan berkepanjngan di rumah kami . laki-laki yang tak bermoral dan tak bertanggung jawab . kalau memang dia tidak pernah siap menanggung hidup anak dan istrinya , lalu buat apa dia menikah kalau meninggalkan kesengsaraan .

Dan ini akibat yang harus kutanggung . Hidup serba kekurangan di rumah gubuk yang lebih pantas disebut sebagai kandang kambing bersama seorang ibu yang sebelah matanya buta . Oh Tuhan,,,kehidupan macam apa ini .

Sebagai gadis remaja , aku juga ingi hidup normal seperti temen-temen yang lain . Bisa memiliki pakaian yang bagus , aksesoris lux , atau benda=benda modern lain . Tapi bagiku itu hanya mimpi . kehidupan yang tak memugnkinkan aku menikmati semua khayalan  tersebut . ibu yang hanya penjual sayur , tak mungkin bisa membilikan barang -barang bagus yang hanya dimiliki orang-orang kaya . Sedang untuk makan sehari-haripun , kami serba kekurangan .

Soal kekurangan , mungkin aku masih bisa makan . Toh hampir setiap warga di kampungku juga hidup dalam kondisi serupa . satu hal yang sama sekali tak bisa aku terima , kondisi ibuku yang leknan ( alias hanya bisa melek yang sebelah kanan ) . Ini benar-benar menjtuhkan harga diriku sebagai kembang desa . Aku ingat , sejak kecil teman=temanku selalu menghina dan mengatakan kalau ibuku seperti Si Buta dari Gua Hantu . Dihina seperti itu , aku tak bisa buat apa-apa . Paling hanya bisa menangis dan mengadu pada ibu .

“Kenapa kamu menangis nduk?/ tanyanya lembut . Dengan setengah membentak , aku menjawab ,” aku malu punya ibu yang buta ,” Aku tak tau bagaimana perasaan ibu saat itu . yang aku tau dia hanya diam dan coba trtap tersenyum , meski terlihat matanya mulai memerah menahan tangis . Itu dulu , saat aku masih bocah dan belum tau akan arti hidup . tapi sekarang, usiaku sudah 18 tahun . Aku telah menyelesaikan SMU dan tumbuh menjadi gadis cerdas . Jadi untuk apa aku mengenag masa lalu  yang suram dan pahit serta hanya menyisakan luka . Aku ingin mengubur dalam -dalam luka tersebut . Maka aku putuskan pergi ke  Jakarta untuk mengubah nasib . Ya,,, aku harus sukses Aku harus jadi orang terpandang yang setiap orang bertemu akan menundukkan kepala sebagai tanda hormat .Awalnya , ibu tak mengizinkan aku pergi ke Jakarta , nduk apa kamu ndah kasihan sama ibu ?/ibu sudah tua . Apa kamu tega meninggal ibu seorang diri ?’
tapi tekatku sudah bulat . Tidak kupedulikan nasehat dan rujukan wanita yang sangat mencintaiku . Kehidupan di desa adalah kehidupan miskin yang tak bisa membawa kebahagiaan . Maka dengan diiringi isak tangis dan derai air mata ibu , kutinggalkan ia menuju kota harapan .

Bertahun-tahun tinggal di kota , impianku pun terwujud . Aku berhasil meraih semua anggan dan cita-citaku . Menjadi wanita karir dengan jabatan manejer di sebuah perusahaan multi nasional , mobil mewah yang setia mengantarku kemanapun , serta rumah megah yang sangat nyaman untuk menghabiskan saat-saat penat  . Singkatnya , aku telah menjelma menjadi sosok wanita terhormat . Sampai kemudian , aku memperoleh kabar dari seseorang kalau ibuku sakit  . Memang sejak aku meninggalkan rumah , aku tak pernah kirim kabar kepada ibu . Jujur , meski kadang aku benci dengan keadaan ibu yang buta , tapi sebagai anak , aku juga rindu sama ibu .

Pada hari yang telah aku tentukan , akupun berniat menjengguk ibu . Dengan ditemani mewahku , kususuri jalan-jalan pelosok yang sampai sekarang masih tetap juga tak berubah , Entah apa yang aku rasakan , sepanjang jalan hatiku was-was . Entah rindu atau takut , aku tak tahu . Yang jelas , hatiku sangat gelisah sampai akhirnya aku tiba disebuah gubuk di ujung desa . Masih kecil , rumah itu tetap terlihat rapi dan bersih . Tapi suasananya sepi . Entah dimana gerangan ibu . Kuketuk pintu rumah , tak ada jawaban . kubuka pelan-pelan dan kulangkahkan kaki ke dalam rumah . Hening,,,Tak ada suara sedikitpun . Kulongok kamar tidur , tak ada ibu . yang tertinggal hanya sebuah dipan beralaskan tikar pandan .

Setengah berteriak , kupanggil namanya ,. ” Ibu ,,,Ibu,,,Ibu,,,dimaana ?/ ini santi , bu .” Tak ada jawaban sama sekali . Setengah kesal , aku segera keluar . “Oooohh,,,ada tamu,” sapa seseorang . “Ibu saya ada, bu ?/ Ibu saya mana ?/ Saya santi .” tanyaku kepada seseorang tetangga yang kebetulan ada di depan rumah , orang yang kutanya terdiam . Namun wajahnya selalu memperhatikan aku , mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki , “Ini Santi anakny bu Warni? tanyanya . Iya saya Santi , ” jawabku . ibu saya man ?” ia tak menjawab dan mengajakku kerumahnya . Setelah itu , ia memberikan selembar kertas kusam yang aku tak tau isinya apa .

Surat ini diberikan Ibumu sebelum sebelum beliau meninggal seminggu yang lalu . Ia berpesan , agar surat ini diserahkan kepadamu . Sebab ia yakin , kalau kamu pastia akan pulang .”Kuterima suratini dengan perasaan tak menentu , dan mulai kubaca ; Untk santi , anakku yang tercinta ,,,Mungkin saat kamu membaca surat ini .  Ibu sudah tidak ada lagi .Ibu hanya ingin memberitau sedikit tentang sesuatu yang sebenarnya sudah ibu tutupi sudah sekian lama . ibu  sangat menyayangi kamu dari lahir . kamu dilahirkan dengan sangat sempurna dan cantik , sampai pada suatu hari ketika kamu masih kecil , matamu tersangkut kawat hingga terluka sebelah .

kemudian ibu pergi membawamu ke kota untuk berobat . Ternyata menurut dokter , karena matamu rusak dan kamu mengalami kebutaan . Ibu sanga bigung waktu itu , sampai akhirnya ibu memutuskan untuk menukar matamu yang buta dengan mata ibu yang masih normal sehingga kamu dapat melihat indahnya dunia dengan kedua bola mata ini . ibu rela kehilangan sebelah mata dan menjadi bahan cemoohan serta caci maki teman-temanku . Ibu rela nak,,,ibu rela air mata ini menetes untuk dirimu . Aku hanya tergugu tak bisa bersuara . Ibu,,,maafkan aku yang telah mendurhakaimu,,

Sumber : ” Pondok Pesantren Man Ana”

July 30, 2012 Posted by | Story | , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Agar Do’a Diterima

Allah-green-transparent

Allah-green-transparent (Photo credit: Wikipedia)

Bismillahirrahmanirrahiim,

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatu,

Suatu hari, seorang Arab Badui bertanya kepada Nabi saw; ” Apakah Tuhan kita itu dekat, sehingga kami dapat munajat / memohon kepada-Nya, atau jauh sehingga kami harus menyeru-Nya?” Rasulullah terdiam, hingga turunlah suray Al- Baqarah ayat 186;” Dan apa bila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku , maka (jawablah), bahwasannya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku , agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Allah SWT lebih dekat daripada urat leher kita

Di dalam ayat tersebut dikatakan bahwa keberadaan Allah SWT sangat dekat, sehingga Kita semua tidak perlu untuk berteriak keras ketika kita memohon kepada-Nya. Bahwa Allah SWT lebih dekat daripada urat leher kita ( lihat surat Qaaf ayat 16 ).  Ayat di atas merupakan janji Allah SWT untuk mengabulkan do’a bila kita  memohon kepada-Nya. Jadi do’a harus dilakukan secara langsung kepada-Nya, tidak perlu perantara makhluk Allah yang lain. Yakinlah akan janji ini dan berprasangkalah yang baik bahwa do’a kita akan dikabulkan. Allah SWT dalam suatu hadist qudsi berfirman;” Aku mengikuti prasangka hamba-Ku.”

Jadi berprasngkalah baik bhwa Allah SWT akan mengabulkan do’a Kita, niscaya Dia akan bersama dengan harapan Kita. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam berdo’a adalah jangan tergesa-gesa. Rasulullah pernah berkata; Akan diterima do’a siapapun yang tidak tergesa-gasa” Maksudnya adalah jangan cepat berkata bahwa “Allah tidak menerima do’aku” setelah beberapa kali berdo’a. Ada kemungkinan Allah SWT masih menunda mengabulkan do’a. kita harus bersabar sampai do’a kita diterima atau Allah SWT memberikan solusi lain yang lebih baik bagi kita. Yang menarik ayat 186 surat Al-baqarah ini terletak diantara ayat-ayat berhubungan tentang ibadah di bulan Ramadhan kita sangat dianjurkan untuk derdo’a. Bukankah orang yang berpuasa itu do’anya tidak akan ditolak seperti hadist  Nabi saw tentang tiga golongan yang tidak ditolak do’ana yaitu pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai dia berbuka dan orang yang didzalimi .

Semoga kita senantiasa menjadi hamba yang sabar dan menjalani hidup sesuai dengan petunjuk Allah SWT dalam Al-Qur’an, sehingga do’a-do’a yang kita panjatkan kian mendekatkan diri kita kepada Allah.

Sumber : Irsyad  “Pondok pesantren Man Ana”

July 28, 2012 Posted by | Kumpulan do'a | , , , , , , , , , , | Leave a comment

POHON APEL YANG SERING DI LUPAKAN

Bismillahirrahmanirrahiim,

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

MUNGKIN kita pernah membaca tentang Nabi Sulaiman a.s. Dan seekor semut yang sangat taat. Suatu hari Baginda Nabi Sulaiman a.s. Sedang berjalan-jalan di sebuah tanah lapang. Ia melihat seekor semut sedang berjalan sambil menganakat sebutir buah kurma. Ia terus mengamatinya, kemudian ia memanggil sisemut itu & bertanya “Wahai semut kecil, untuk apa kurma yang kau bawa itu ?

Baginda Sulaiman

“Ini  adalah kurma yang  Allah SWT  berikan sebagai makanan saya  selama  satu tahun,”Baginda Sulaiman kemudian mengambil sebuah botol , lalu berkata pada si semut , ” Wahai semut kemarilah engkau, masuklah ke dalam botol ini , aku telah  membagi  dua kurma ini dan akan aku berikan separuhnya  padamu sebagai  makananmu  selama satu tahun . tahun depan aku akan datang lagi untuk melihat keadaanmu.

Si semut pun mentaati  perintah  Nabi Sulaiman a.s. Setahun telah berlalu. Baginda Sulaiman datang melihat  keadaan  semut kecil itu. Ia melihat kurma yang diberikan  kepada si semut itu tidak banyak berkurang. ” Wahai semut, mengapa  engkau tidak menghhabiskan kurmamu?” Tanya Baginda Sulaiman. ” Wahai Nabiyallah, aku  selama ini hanya  menghisap  airnya dan aku banyak berpuasa. Selama ini Allah SWT yang  memberikan kepadaku sebutir kurma  setiap tahunnya , akan tetapi  kali ini engkau memberiku separuh buah kurma. Aku takut tahun depan engkau tidak memberiku  kurma lagi karena  engkau bukan  Allah Yang  Maha  Pemberi Rizki ( Ar-razak),” jawab si semut.

Baginda Sulaiman lalu mengeluarkan semut dari  botol itu dan membiarkan berkeliaran untuk mengais  rizki dari Allah. Di balik ucpan lepas  semut  tersebut, tersirat sebuah makna bahwahanya kepada Allah kita patut mengantungkan nasib, maka tidak pantas kita bergantung pada selain-Nya, meski  kepada  seorang hamba yang taat beribadah.

Imam Al-Ghazali menceritakan bahwa pada suatu ketika tatkala Nabi Daud a.s

Dalam sebuah kitab, .Imam Al-Ghazali menceritakan bahwa pada suatu ketika tatkala Nabi Daud a.s. Sedang duduk di dalam  suraunya  sambil membaca kitab Zabur, tiba-tiba ia melihat seekor ulat merah derada di tengah-tengah debu. Lalu Nabi Daut a.s  berkata dalam hati, ” Untuk apa Allah menghadirkan ulat ini kepadaku ?” Maka, dengan izin Allah ulat itu berkata, ” wahai Nabiyaallah! Allah SWT telah mengilhamkan kepadaku unyuk membaca’ Subhanallahu walhamdulillahi wala  illahaillallahu walllahu akbar’ setiap hari sebanyak 1000x.

Setelah  berkata  demikian, ulat merah itu pun bertanya kepada Nabi Daud, ” Apakah kamu masih ingin mengatakan apa manfaatku  untuk mu?” Nabi Daud  terdiam sejenak, ia menyadari atas  kekhilafannya karena   Memandang remeh ulat  tsb , ia pun langsung bertaubat kepada Allah. Hikmah yang bisa petik adalah jangan sekali2 meremehkan terhadap sesama, bisa jadi orang yang kita remehkan kedudukanya  lebih  mulia dari kita. Dalam kesempatan ini kami akan mengangkat sebuah kisah tentang pengorbanan besar yang dilakukan oleh pohon apel kepada seorang anak laki2. Namun, anak laki-laki itu kerap melupakannya. Meski begitu, pohon apel itu  selalu menunjukkan wajah cerianya dan tak setitik pun keluhan di dadanya.

Pohon Apel

Dikisahkan, dahulu  kala berdiri sebuah Pohon Apel yang amat  besar, Disamping besar, pohon ini mempunyai  daun yang sangat rindang Dan buah-buahan yang  amat ramun. Nanpak seorang anak laki-laki bernama wildam tengah  asyik bermain-main di sekitar pohon ini setiap hari. Ia memanjat pohon tersebut, memetik  serta memakan apel sepuas-puas hatinya. Dan, tidak jarang ia tertidur lelap dibawahnya. Wildam begitu menyayangi  tempatnya  bermain. Begitu juga Pohon Apel itu, ia sangat senang  jika  tubuhnya  dijadikan  tempat  bermain anak laki-laki itu. sehari saja anak itu tidak bermain, hatinya sangat risau.

Seiring dengan berjalannya  waktu, wildam tumbuh menjadi remaja, ia tidak mau lagi menghhabiskan waktunya bermain di sekitar Pohon Apel itu. Ia juga tidak mau lagi bercengkrama dengan merebahkan tubuhnya di bawah Pohon itu. Namum, ia datang dengan wajah yang murung, ada sebuah masalah yang menyita  pikirannnya. ” Marilah bermain-main lagi di sekitarku seperti dulu!” ajak Pohon Apel itu.

“Tidak, aku bukan lagi anak -anak, aku tidak lagi gemar  bermain denganmu,” jawab  Wildam,” ” Aku ingi menikmati masa remaja ku. Tapi aku tak punya uang untuk meraihnya,” “Kalau begitu, petiklah apel-apel yang ada padaku. Jualah untuk mendapatkan uang. Dengan itu, kamu akan dapat meraih apa yang kamu inginkan,” ucap Pohon Apel itu.

Betapa gembiranya Wildam endengar ucpan pohon apel itu

Betapaa gembiranya Wildam mendengar ucpan pohon apel itu, ia pun langsung  memetik semua apel di  itu. Setelah  semua apel dipetiknya, ia lalu pergi kepasr dengan perasaan yang sangat puas tanpa menoleh kebelakang. Pohon apel itu turut merasa  Gembira menyaksikannya. Namun, sudah beberapa tahun setelah kejadiaan itu, Wildam tidak pernah kelihatan batang hidungnya. Pohan apel yang kini sudah tidak berbuah lagi bbegitu risau memikirkannya. Maspun berlalu, Wildam kini bbbbberanjak menjadi dewasa. Kumis dan janggotnya Nampak tumbuh subur mmmelintani wajahnya, pita suaarapun sudah tak senyaring dulu. Suatu saat ia menghampiri Pohon apel itu lagi dengan raut wajah amat kusut.

“ Wahai Wildam, marilah bermain –main lagi disekitarku !”ajak Pohon apel itu menyambut  kehadiran  orang yang selama ini amat dirindukannya. Aku terpaksa  kerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin membangun rumah untuk  bernaung keluargaku, Maukah kau menolongku ?” Tanya Wildam . Maafkan aku. Aku tidak mempunyai  rumah. Tetapi kamu boleh memotong  dahan-dahanku  yang besar ini untuk kamu jadikan sebagai tempat  tinggalmu,” ucap pohon itu.  Tanpa  piker panjan lagi, Wildam langsung memangkas  semua dahan Pohon apel itu. Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, lalu ia pergi meninggalkan Pohon apel itu dengan perasaan GembiraPohon apel itupun turut gembir, tetapi  lagi-lagi ia merasa sedih  karena Wildam tidak lagi menghampirinya selepas itu. Tak sepatah pun ucpan terima kasih keluar dari mulut lelaki itu. Beberapa tahun berikutnya, di musim panas. Datanglah seorang lelaki menemui  Pohon apel itu. Lelaki yang tidak lain adalah Wildam kembali datang  ingin mengadukan sesuatu kepada Sesutu  kepada Pohon  yang begitu setia  menemaninya  sejak kecil.

“ Wahai  Wildam, marilah bermain –main lagi disekirku  seperti  dulu,” ucap Pohon apel itu merajuk . “Maafkan aku, tetapi aku bukan  lagi anak  lelaki bermain-main disekitarmu. Aku kini sudah dewasa. Aku mempunyai cita-cita untuk berlaya. Malangnya, aku tidak memiliki perahu. Sudikah kamu menolongku ??” Ucap lelaki itu. “ Aku tidak mempunyai perahu  untuk diberikan kepadamu. Tetapi kamu boleh memotong  batang   pohonku untuk dijadikan perahu.  Kemudian  Wildam  pergi  dari situ dengan perasaan puas  dan tidak kembali lagi selepas itu . Sipohon apel itu turut gembira , namun akhirnya kembali sedjh  karena  tak di tengok lagi . Suatu hari, seorang  lelaki yang makin dimamah usia dating menuju  Pohon apel  itu. Yah, dia adalah  Wildam  yang kini sudah tua renta  dan  tidak berdaya. Sambil terseok-seok, ia  berjalan manuju  tempat  berdirinya pohon  yang  banyak  berkorban  untuknya  itu.

“ Maaf, aku  tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan kepadamu. Aku  sudah memberikan  buahku untuk kamu jual, dahanku  untuk kamu buat rumah , batangku untuk kamu buat perahu. Aku hanya ada tunggul  dengan akar  yang hamper mati . . . “ ucap Pohon apel itu dengan nada pilu. “ Aku tidak lagi menginginkan apelmu  untuk memakannya  karena  aku  sudah tidak bergigi lagi, aku sudah tidak perlu dahanmu  lagi karena aku  sudah tidak kuat lagi untuk  memotongnya, dan aku juga tidak lagi butuh batang pohonmu  karena aku sudah tidak kuat  lagi untuk berlayar, aku merasa lelah dan istirahat ,”jawab Wildam sambil terbatuk-batuk. “ Jika begitu istirahatlah diperaduanku,” ucap Pohon apel itu dengan nada lirih.

Mereka  bersyukur  karena  telah  dipersatukan kembali  oleh  Allah SWT.

Lalu Wildam duduk beristirahat di peraduan pohon apel itu . Keduanyapun saling melepas tangisan , Mereka  bersyukur  karena  telah  dipersatukan kembali  oleh  Allah SWT. Wildam baru menyadari  begitu  besarnya  pengorbanan  pohon  apel  itu kepadanya, namun ia bagaikan orang yang tak tau di untung. Sebenarnya, pohon  apel yang dimaksudkan dalam cerita ini adalah kedua  orang  tua  kita. Bila kita masih muda, kita suka  bermain  bermain dengan  mereka, ketika  kita meningkat  remaja  kita perlukan  bantuan mereka  untuk meneruskan hidup. Lalu kita tinggalkan mereka, dan hanya kembali  meminta  pertolongan apa bila kita di dalam kesusahan. Namun  begitu, mereka  tetap  menolong  kita  dan melakukan  apa  saja  asalkan kita bahagia dan gembira dalam hidup. Jika kita simak kisah tersebut, mungkin  kita  akan mengatakan  betapa  kejamnya  Wildam terhadap pohon apel  itu, menghampirinya jika dalam kesusahan, lalu meninggalkannya ketika kesusahan itu  pergi. Begitulah potret  seorang  anak  saat  ini  terhadap orang  tuanya. Sejarah  telah mencatat dengan  tinta  emas  bahwa  berapa  banyak  orang  yang  mendurhakai  orang  tuanya telah mendapat  murka  dari  Allah. Karena  orang  tua  adalah  keramat  yang  berjalan, jika ingin mulia hidupnya  maka  banyak-banyaklah  berbakti  kepada  orang  tua. Masih  ada waktu  bagi kita untuk memperbaiki  dosa kita kepada  kedua orang tua.

Wallahu A’lam

“ Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada  dua  orang  Ibu-Bapaknya ; Ibunya  telah mengandungnya  dalam  keadaan lemah  yang bertambah-tambah, dan menyapihnya  dalam dua tahun. Bersyukurlah Kepada-Ku  dan  kepada  dua  orang  Ibu-Bapakmu , hanya  Kepada-kulah  kembalimu” ( Q.S.Luqman/31:14)

Sumber: Hikayah ( Ltf , Dinukil dari beberapa kitab klasik )

July 27, 2012 Posted by | renungan | , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Cahaya ukuwah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,,

Sahabat saudariku fillah,,
Meninggalkan perdebatan adalah perkara yang terpuji sekaligus merupakan hak seorang muslim atas saudaranya, perdebatan akan memudarkan rasa cinta , menyebabkan sirnanya persahabatan, merusak persahabatan yang telah lama terjalin, dan menimbulkan kebencian, permusuhan serta terputusnya hubungan diantara manusia.

Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan sementara ia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga.[ HR Bukhari , Muslim, ]

Maka wajib bagi seorang muslim untuk menjauhi perdebatan, karena sisi pandang terhadap suatu permasalahan berbeda-beda. Semakin luas pandangan seorang, semakin luas akal dan pengetahuannya,
Jika tampak bahwa diskusi mulai berubah menjadi perdebatan, maka hendaknya engkau menarik diri dari perdebatan tersebut, baik kebenaran itu ada padamu maupun engkau memandang bahwa kebenaran ada pada saudaramu, bukan pada dirimu.

Wallahu A’lam..

Salam ukhuwah wa habbah fillah,

July 7, 2012 Posted by | renungan | , , , , , , , , , , | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

July 7, 2012 Posted by | Uncategorized | 1 Comment

   

Mif19.tea's Blog

Just a Little Scientific Inspiration 4 You

KITa Call Indonesia

Seruan di Ufuk Fajar

Mrs Djones' Journey

Journey through marriage and motherhood~

d2cuthe blog

kesempatan tidak akan datang dua kali

Qalbunsalima's Blog

Hati yang damai, tentram dan sejahtera

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.