rindusyurgaku

hidup akan lebih berarti bila dapat menjadi bagian orang lain

Kurindukan Belai kasihmu Ibu

Kakna and Haikal

Kakna and Haikal (Photo credit: wajakemek | rashdanothman)

Bissmillahirrahmanirrahiim,

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Tak pernah terbayangkan dalam benak Aisha kalau diriny akan menjadi anak yatim piyatu. Hidup terlunta tanpa orang tua terkasih  yang bisa melindungi saat kedinginan mendera. Ataupun menaungi saat terik matahari menerkam. Namun itulah garis hidup yang harus dijalani gadis cilik berusia 4 tahun ini, bersama sang kakak, Haikal (6tahun ), keduanya harus bertarung melawan ganasnya sirkuit kehidupan yang tak pernah kenal kompromi.

Suasana yang sunyi

Malam belum lagi sempurna, namun udara dingin mulai menyelimuti. Rinai hujan Yang turun sejak usai bedug magrib berkumandang, tak kujung berbaik hati. Sesuai melaksanakan sholat tarawih, sebagian besar warga memilih berdiam diri dirumah. Alhasil , Suasana yang sunyi  itu kian terasa senyap. Di kejauhan hanya terdengar suara jangkrik Yang riang menyanyi.

Di tengah gulita itu, tampak dua sosok ringkih berjalan tertatih. Diselingi ereng kesakitan, kedua sosok itu terus berjalan sampai kemudian berhenti di sebuah ronda. ” Dik,,,malam ini kita tidur di pos ronda ini ya ,”ucap Haikal, sang kakak. Gadis cilik Yang dipangil adik itu hanya mengangguk . Haikal dan adiknya segera membaringkan tubuh mereka yang nampak kurus kering ,tanpa selimut dan bahkan tanpa alas. Mereka hanya mengenakan hanya mengenakan baju pendek dan celana pendek yang sejak berhari-hari tak pernah diganti. Semilir angin Yang berhembus, menerpa tubuh keduanya hingga membuat mereka menggigil kedinginan. Tubuh Haikal tampak menggigil hebat. Gemeletak giginya jelas menampakkan kalau hawa dingin telah menembus kulit dan menusuk hingga tulang sum sumnya. Sementara Aisha terlihat menangkupkan kedua tangannya ketubuh, meski ia masih terlihat tertidur pulas dalam dekapan sang kakak.

Dengan tubuh gemetar

Dengan tubuh gemetar, Haikal memandang wajah adiknya. Paras yang sebenarnya cantik itu terlihat sangat pias, nyaris tak terurus. Pipinya yang tadinya gembul, sekarang nampak cekung. Tak ada senyum di wajah gadis belia itu. Wajah itu begitu dingin, seolah mengambarkan betapa hebat penderitaan yang dialaminya. Haikal tak mampu menahan kesedihannya. Tanpa terasa, bulir bening di ujung kelopak matanya menitik, jatuh tepat di wajah sang adik.

Tiba-tiba Aisha terbangun dan merintih kesakitan. “Kak, perutnya sakit,,,” erang sang adik yang mau tidak mau membuat Haikal jadi kebingungan. Ia pun sangat lapar dan kedinginan  Memang sejak beberapa hari, keduanya belum mengisi perut seperti halnya umat Islam lain, mereka juga berpuas Ramadhan. Rupanya, ajaran orang tua mereka sangat membekas dalam kesehariaan  maka tak mengherankan, kalau dalam usia belia tersebu, Haikal telah mampu berpuasa hingga bedug magrib. Akan halnya Aisha, ia pun terpaksa menahan lapar lantaran tak ada makanan yang bisa mengganjal perutnya. Untuk bebuka atau sahur, mereka biasanya mencari masjid yang menyediakan panganan untuk berbuka. Sebab, mereka tak punya uang sepersenpun walau hanya untuk membeli sepotong roti.

“Tidur aja, Dik,,Nanti menjelang sahur, kakak akan mencari makanan,” ucap Haikal berusaha tersenyum menghibur adiknya walau suaranya semakin parau karena kedingina . Tapi perut Aisha sakit sekali, kak. Aisha gak bisa tidur,”

“Iya kakak tau, kakak janji, besok pagi kita beli makanan. Sekarang Aisha tidur dulu ya,”batin Haikal sangat sesak. Tak tega rasanya ia harus membohongi adik yang sangat di citainya itu. Bukan hanya kali ini saja ia membohongi Aisha akan membelikan makanan untuknya, tapi ucapan itu dilontarkan, sekedar menghibur untuk sang adik.

Sejak dua hari yang lalau

Aisha hanya diam. Ia berusaha memejamkan matanya. Tapi Haikal sangat jelas merasakan kalau sang adik sedang terisak di pelukanny. Haikal tau , kalau adiknya pasti sangat lapar, sama seperti dirinya. Ia pun tidak tau sampai kapan mereka akan tetap bertahan, kalau keadaanya seperti ini terus. Sejak dua hari yang lalau , keduanya terpaksa diusir dari rumah petak Yang selama ini menjadi tempat berlindung bersama Ibu mereka. Mereka berjalan dan terus berjalan tanpa tujuan. Menjelang malam sampai di pos ronda yang sekarang menaungi tubuh rapuh mereka  Sang kakak tidak merasa yakin kalau mereka bisa melewati malam yang begitu dingin itu . Mereka tidak berani meminta tolong penduduk sekitar. Mereka terlalau kecil dan terlalu takut untuk meminta tolong. Karena mereka tau, mereka hanya akan di pandang sebelah mata, dianggap pengemis yang hanya pura-pura mengemis untuk membiayai orang tua mereka Yang pengangguran .

Di tengah rintikan halus hujan malam yang dingin itu, Dua orang kakak adik itupun tertidur dengan perut Yang sangat lapar dan Tubuh Yang lemah, hanya berselimutkan tubuh satu sama lain Yang saling berpelukan. Menjelang shubuh, saat Aish ,terbangun, ia menemukan kakaknya sedang merintih kesakitan sambil memgangi perutnya. Sang adik yang massih kecil itu pun panik dan hanya bisa menangis. Tangisannya itulah Yang kemudian mengundang perhatian penduduk sekitar yang hendak menunaikan sholat shubuh di masjid. semua orang berdatangan untuk melihat siapag Yang menangis sepagi itu. Beberapa orang langsung menghampiri Dua Tubuh kurus itu lalu memeriksa keadaan mereka .

baju mereka basah kuyup dan Tubuh Haikal sangat panas. beberapa orang mengambilkan pakaian untuk mereka, Beberapa orang lagi memberikan makanan dan ada seorang ibu yang dengan baik hati mau mengolesi perut sang kakak dengan minyak angin karena mengeluh perutnya sangat sakit . Seorang ibu mencoba menenangkan Aisha. Setelah tangisny mereda, ia pun dibawa oleh ibu itu kerumahnya.Sementara sang kakak Yang merinyih kesakitan. langsung di larikan ke rumah sakit untuk di periksa dokter.

Di bulan Ramadhan yang penuh berkah

Hari itu adalah hari terakhir dua anak manusia itu bertemu. Bersua dalam derita yang tak terbayangkan. Kaarena setelahnya, mereka tdak pernah ketemu lagi. Untuk selama-lamanya. Di bulan Ramadhan yang penuh berkah, Ramadhan Yang untuk pertama kalinya mereka lalui tanpa belai hangat orang tua, Haikal meninggalkan Aisha selama-lamanya. Haikal meninggal Di rumah sakit karena penyakit angin duduknya sudah sangat parah , akibat kehujanan semalaman ditambah dengan perutnya Yang kosong. Sang adik, meski kehujanan dan kelapara , lebih berkurang karena bisa selamat

Namun bagi Aisha hidup ini terlalau bera. Beban itu kini harus ditanggung seorang diri . Setelah orang tuanya meninggal, Kini sang kakak yang selama ini menemani dan melindunginya pun, menghadap Illahi . Aisha hanya bisa menangis . ia tak tau kemana lagi ia akan melangkahkan kaki ringkihnya. Ya Allah,,,Anak tak berdosa Yang seharusnya bisa menjalani masa kanak-kanaknya itu dengan riang, kini harus hidup seorang diri. Penderitaan yang dialami Aisha, membetot nurani seorang ustadz yang kebetulan memiliki pesantren yatim. Batinya meronta dan menjerit.

Yaa Robb,,hamba tak bisa membiarkannya hidup sendirian. Hamba akan merawatnya bersama anak-anak hamba Yang lain. Hamba akan mencurahkanrasa sayang ini. Sama seperti anak-anak Yang lainnya. Hamba akan serahkanan sekeping hati ini untuk anak itu.

Ustadz kemudian membawa Aisha kepesantren . ia tak ingi Aisha terlunta sendirian di jalan dan nantinya menjadi mangsa dari kerasnya hidup di jalanan . Biarlah a menikmati masa kecilnya , sama seperti anak kecil lain ., meski ia harus tinggal di pesantren , terutama AAisha atas kehilangan orang-orang yang di cintainya . perlahan akan hilang dengan sendirinya .

Bukankah di pesantren , ia tak sendiri ? Bukankah di pesantren ada anak anak yang jugamengalami nasib serupa ? Semoga saja, ia bisa cepat melupakannya beban kesedihannya . Malam itu , usai pemakaman Haikal ., ustadz berusaha berkomunikasi dengan aisha . beliau ingin tau , bagaimana ia dan kakaknya bisa hidup terlunta-lunta di jalan tanpa orang tua . Dengan wajah sendu , bibir mungil Aisha mulai bercerita .

setahun yang lalau , ayah mereka , marwan dipanggil menghadap Illahi . penyakit kanker yang telah menggerogotinya selama bertahun-tahun tak mampu dilawannya  . meski telah berobat kesana kemari dan menghabiskan uang puluhan juta  , penyakit yang  menderanya tak kunjung sebuh . dan akhirnya , Allah memanggil dirinya . kepergian marwan , meninggalkan duka yang sangaat dalam bagi keluarganya . Sari , istri marwan sangat terpukul atas kepergian suami tercinta . Maklum saja , ia hanyalah ibu rumah tangga denga dua orang anak yang masih kecil . Bagaimana ia harus menghidupi diri dan kedua anaknya kelak , sementara harta peninggalan suami hanya tersisa rumah tak sebarapa besar yang kini mereka tempati .

Untik melanjutkan kehidupan , Sari melakuka kerja apapun , yang penting halal . Bahkan menjadi kuli cuci baju tetangganya pun dilakoni tanpa rasa lelah . semuanya dilakukan demi kedua anak cercinta , haikal dan Aisha . Namun tekanan hidup tak hanya  sampai disitu . rumah satu-satunya tempat mereka berlindung dari terpaan hujan dan terik matahari , di rebut paksa oleh adik suaminya . Alasannya , marwan pernah berhutang kepada sang adik dan belun di bayar . maka untuk membayarnya , rumah itu pun direbut . sari tak bisa berbuat apa-apa . Untuk melawan , ia tak punya daya , meski sebenarnya ia tak tau , apakah benar suaminya berhutang kepada sang adik , ataukah itu hanya rekayasa untuk mengambil rumah mereka . Sari memilih mengalah , ia pun terpaksa angkat kaki dari rumah tersebut dan mengontrak di sebuah rumah petak .

Life must go on . Hidup harus terus berlanjut  . Meski beragam persoalan mampir dalam kehidupannya , Sari tak putus asa . Ia tetap berbaik sangka kepada Allah atas beragam ujian bagi keluarganya . Tapi sari tetaplah manusia bisa yang juga punya rasa . Tekanan dan beban yang kian menghimpit itu , betul-betul menghancurkan pertahanan dirinya . Sari pun jatuh sakit tanpa sekalipun memperoleh perawatan dokter . Dan,,,bisa ditebak , sari meninggalkan dunia fana ini . Meninggalkan buah hati yang masih kecil-kecil tampa membekali mereka dengan kemampuan untuk menghidupi diri sendiri .

Sepeninggalan , kehidupan Haikal dan Aisha makin tak karuan . Sampai akhirnya mereka terlunta-lunta dijalanan tanpa sedikitpun uang dan pakaian . Mereka di usir dari rumah kontrakan yang tadinya mereka tempati bersama ibu mereka . Anak kecil mana bisa bayar uang konrtakan begitu alasan sang pemilik rumah itu , Baru beberapa hari hidup di jalan , Haikal pun tak kuasa menahan beban derita . Dan alur cerita Aisha belum berhenti . Sepeninggalan ayah , ibu dan kakaknya , kini Aisha menjalani drama kehidupannya di pesantren yatim bersama teman-teman sebaya yang juga nyaris mengalami hal serupa . Namun kini Aisha bisa tersenyum . Ia tak lagi sendiri . Ada banyak kakak dan adik yang bisa menemani saat suka maupun duka . Dan yang lebih terpenting , ada Ayah dan Bunda yang dengan tulus dan sepenuh hatimenyayanginya .

kini dalam setiap do’anya , Aisha hanya mampu berucap lirih . “Bunda,,,Aisha rindu belai kasih bunda ,

Sumber : Irsyad ” Pondok Pesantren Man Ana ”

August 10, 2012 - Posted by | Story | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Mif19.tea's Blog

Just a Little Scientific Inspiration 4 You

KITa Call Indonesia

Seruan di Ufuk Fajar

Mrs Djones' Journey

Journey through marriage and motherhood~

d2cuthe blog

kesempatan tidak akan datang dua kali

Qalbunsalima's Blog

Hati yang damai, tentram dan sejahtera

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: