rindusyurgaku

hidup akan lebih berarti bila dapat menjadi bagian orang lain

Ketika Singa Padang Pasir Berurai Air Mata

English: Tombstone of Umar, the third caliph.

English: Tombstone of Umar, the third caliph. (Photo credit: Wikipedia)

Bismillahirrahmanirrahiim,

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Umar bin Khatab

Pernhkan anda membaca dalam riwayat bahwa Umar bin Khatab menangis? Umar bin Khatab yang dikenal sebagai sahabat yang gagah perkasa sehingga disegani lawan maupun kawan. Bahkan konon, dalam satu riwayat, Nabi menyebutkan kalau syaithan pun amat segan dengan Umar sehingga kalau Umar lewat disuatu jalan, maka syaithan akan menghindar lewat jalan yang lain. Terlepas dari kebeneran riwayat terakhir ini, yang jelas keperkasaan Umar sudah menjadi buah bibir di kalangan umat Islam. Karen itu kalau Umar sampai menangis, tentulah itu menjadi peristiwa yang menakjubkan. Mengapa “Singa padang pasir” ini sampai menangis? Peristiwa apa yang mampu membuat khalifah kedua ini berurai air mata? Suatu saat, Umar pernah meminta izin menemui Rasulullah. Ia mendapatkan beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar, sebagian tubuh beliau berada diatas tanah. Rasul mulia tersebut hanya hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Lantas Umar mengucapkan salam dan duduk di dekatnya. Perlahan, mata Umar mulai memerah. Dan tanpa dapat di bendung, bulir bening mulai menitik di ujung kelopak matanya.

Dunia adalah tempat singgah

Rasul yang mulia pun bertanya, “mengapa engkau menangis ya Umar?” Umar menjawab,””bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan kisra dan kaisar duduk disinggasana emas dan berbantalkan sutra”. Nabi berkata,” mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga; sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kuam yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon , kemudian berangkat dan meninggalkannya.” Subhanallah,,,Indah nian perumpamaan Nabi akan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini adalah tempat pemberhentian sementara; hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya. Kehidupan manusia di dunia tak ubahnya serang musafir yang melakukan perjalanan jauh. Dunia hanyalah tempat singgah. Transit, tempat pemberhentiaan sementarayang setelah itu akan akan kembali melanjutkan perjalanan panjang.

Ketika kita pergi ke Eropa, biasanya pesawat akan transit di Singapura. Atau saat pulang dari Saudi Arabia, biasanya pesawat akan mampir sejenak di Abu Dhabi, anggap saja tempat transit itu, Singapura dan Abu Dhabi, merupakan dunia ini. Aapakah ketika transit kita akan habisankan segala perbekalan? Apakah kita akan selamanya tinggaldi tempat transit itu? Ketika kita tengah bersibuk ria shopping, ternyata pesawat telah memnggil kita untuk segera meneruskan perjalanan. ketika kita sedang terlena dan sibuk dengan dunia ini,tiba-tiba Allah memanggil kita pulang kembali ke sisi-Nya. Perbekalan kita sudah habis. Tangan kita justru penuh dengan bungkusan dosa. Kenistaan yang kita kumpulkan . lalu bekal apa yang akan kita bawa nanti di padang Mahsyar?

Bekal kita di akhirat

Sahabat saudariku fillah,,sisakan kesenangan Di dunia ini untuk Bekal kita di akherat. Dalam setahun, tak bisakah kita meluangkan waktu cuma sebulan untuk menahan nafsu, haus dan lapar? melaksanakan qiyamul lail atau melantunkan seruan-seruan illahi? Dalam tujuh hari seminggu, mengapa kita tak bisa mengendalikan diri paling tidak dua hari dalam seminggudengan melakukan ibadah puasa senin -kamis? Dalam dua puluh empat jam sehari, mengapa tak kita sisakan waktu barang satu-dua jam untuk shalat dan membaca Al-Qur’an. Delapan jam waktu kita tidur, sangat sulitkah membuangnya hanya 15 menit saja untuk shalat tahajud?
“Celupkan tanganmu kedalam lautan”, saran Nabi ketika ada sahabat yang bertanya tentang perbedan dunia dan akhirat. ” Air yang ada di jarimu itulah dunia, sedangkan sisanya adalah akhirat.” bersiaplah, untuk menyelam di “lautan akhirat”. siapa tahu Allah sebentar lagi akan memanggil kita. Dan bila saat panggilan itu tiba, jangankan untuk beribadah, menangis pun kita tak akan punya waktu lagi. Idza jaa-a ajaluhum laa yasta-khiruuna saa’atan walaa yastaq-dimun( Jika sahabat paling dekat yaitu kematian telah memanggil, tidak akan bisa dimundurkan atau dimajukan walau hanya sedekit). siapakah kita??

Sumber: Irsyad” Pondok Pesantren Man Ana”

August 23, 2012 - Posted by | renungan | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Mif19.tea's Blog

Just a Little Scientific Inspiration 4 You

KITa Call Indonesia

Seruan di Ufuk Fajar

Mrs Djones' Journey

Journey through marriage and motherhood~

d2cuthe blog

kesempatan tidak akan datang dua kali

Qalbunsalima's Blog

Hati yang damai, tentram dan sejahtera

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: