rindusyurgaku

hidup akan lebih berarti bila dapat menjadi bagian orang lain

Ketika Cinta

Symbol of Islam, the name of Allah, simplified...

Symbol of Islam, the name of Allah, simplified version, white and golden version. Note: most islamic people consider this symbol more correct to represent them. It is strongly advised to be used instead of the crescent moon with the star that is rather a political symbol. (Photo credit: Wikipedia)

Bismillahirrahmanirrahiim,

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Ketika perasaan cinta telah menguasai diri kita, yang pahit terasa manis, kesusahan menjadi ketenangan, tantangan di lalui dengan gembira dan kekayaan pula dipertaruhkan demi mendapatkan keridhaan sang kekasih. Harta, jiwa dan raga menjadi musuh, semuanya dipersembahkan untuk satu kalimah cinta yang agung. Antara kita dengan Yang Maha Mencintai, Allah Al-Rafiq Al-A’la.

kalimah cinta yang agung

Di sebut cinta, sejarah telah merekam kehidupan anak-anak Adam yang mulia. Allah SWT mendzahirkan kesan-kesan peninggalan dan perjuangan yang hebat sepanjang zaman.

Suatu hari di medan peperangan Uhud, Abdullah bin Jahsy RA berkata kepada sahabatnya Saad bin Abi Waqqash: ” Wahai sahabatku, mari kita berdo’a kepada Allah karena apabila seorang hamba memohon suatu hajat dan sahabatnya mengaminkan permohonan itu, niscaya Allah SWT akan memperkenankan hajatnya itu.”

Kedua-duanya berdo’a, Saad berdo’a di sisi Abdullah: “Ya Allah saat aku di medan pertempuran esok dengan rahmat-Mu Ya Allah, biarkanlah musuh menyerang dengan ganas, biarlah kekuatannya menentang diriku, namun aku akan melawanny dengan segenap tenapa, tolonglah aku memperoleh kemenangan dengan membunuhnya karena-Mu ya, biarkanlah aku memperoleh harta rampasannya dengan limpah kurnia dari-Mu.”

Berdo’a

Setelah Abdullah mengaminkan do’a sahabatnya itu, beliau pula berdo’a,”Ya Allah, biarkanlah aku menemui musuh-musuhku dari kalangan mereka yang gagah dan mereka menyerangku dengan kemarahan yang amat membara. Biarlah kuperangi mereka dengan kekuatanku, jika mereka berhasil membunuhku, aku ridha ya Allah, biarlah mereka memotong telinga dan hidungku agar di hari kiamat nanti Engkau akan memanggilku dan bertanya kepadaku: Wahai Abdullah! Menggapa hidung dan telingamu bisa bercerai dari jasadmu? Aku akan menjawab di hadapan-Mu : “Semuanya telah hilang karena mengharap keridhaan dan kecintaan-Mu ya Allah. “Benar, tentu semua yang hilang itu adalah di jalan-Ku!”

Pada keesokan harinya, peperanpan telag meninggalkan jasad para syahid yang dimuliakan Allah SWT. Saat itu, ketika melihat Abdullah telah kembali ke sisi Allah SWT, Saad berkata: “Do’a Abdullah lebih mulia dari do’aku, aku melihat hidung dan telinganya di ikat pakai benang (karena ia telah dipisahkan dari badannya).

Kekuatan cinta kepada Allah SWT

Kekuatan cinta kepada Allah SWT bisa merubah pemikiran dan perasaan. Orang yang mencintai Allah memikiki perasaan yang tunduk pada kehendak Allah. Dia marah ketika Allah murka, dia benci ketika Allah benci, dia pun suka dan sayang ketika Allah sayang. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya:

“Barang siapa yang cinta karena Allah, benci karena Allah, memberi karena Allah, menahannya karena Allah, maka dia telah menyempurnakan imannya.” (Hadits riwayat Abu Dawud)

Sumber: Mutiara

Related articles

January 3, 2013 Posted by | Mutiara Taskiyah | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Instropeksi

bismillah

bismillah (Photo credit: elif ayse)

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Setiap manusia mengalami perubahan dalam kehidupannya

Setiap manusia mengalami perubahan dalam kehidupannya, dulu dia pernah lalai kepada Allah, kemudia bertaubat kembali ke jalan-Nya dan tidak mustahil dia akan mengulangi lagi kejahatan yang di tiggalkannya itu. Tidak ada insan yang maksum kecuali Nabi, maka sebagai insan biasa, dia senantiasa menilai dirinya. Bayangkanlah jika setiap manusia memandang baik apa saja yang di lakukannya tanpa melihat  perspektif orang lain, sudah tentu kedzaliman yang akan berkuasa.

Sedang orang beriman senantiasa menganggap dirinya sebagai orang yang bersalah, banyak kelemahan dan takut tertipu  dengan kelebihan yang Allah karuniakan kepadanya. Seperti mana orang takut ketika Allah menganugerahkan kebesaran  dan kekayaan kepadanya, dia takut keenakan yang diberikan  di dunia ini  akan menghalangnya merasai keenakan di akhirat nanti.

Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah SAW.

Orang beriman menimbang segala sesuatu dengan neraca Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah SAW. Apa-apa saja tindakan yang di lakukannya senantiasa di rujuk kepada kedua kekuatan ini. Kejahilan menguasa petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah menyebabkan manusia menghalalkan dirinya untuk memutar balik  ayat Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Mereka mau mempergunakan Islam untuk mendapatkan imbalan,

“Dan apa bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, supaya Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebahagian mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk memberi hak (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada Rasul dan patuh. “(Qs. an-Nur: 48-49)

Kesilapan berulang berlaku karena tidak mau mengakui aib diri dan menolak  pandangan orang lain. Semua yang dilakukannya seolah-olah manpak betul belaka, seolah-olah sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah tetapi pada hakikatnya dia tertipu karena kesilapannya memahami ayat-ayat Allah, bahkan sebenarnya dia mempergunakan Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk menuruti nafsunya.

Musahabah

Musahabah musti di lakukan dengan sandaran ilmu dan bimbingan orang lebih alim lagi wara‘ terhadap dunia. Sesiapa mengaabaikan musahabah diri, maka seolah-olah tidak takut dengan hari penghisaban Allah. Berat ditimbang amalnya sekali-kali  tidak menghawatirkan fikiran.

Disebabkan terlalu bercita-cita mengenggam dunia, seseorang terpaksa melakukan penyelewengan dan kedzaliman  terhadap orang lain. semua orang sedaya upaya mau memanfaatkan untuk kepentingan diri dan keluarga.

Pecinta dunia ini seolah-olah lupa, hakikat kesenangan itu baginya hanyalah  satu permulan episode adzab  yang akan dilaluinya  sepanjang masa hinggga berhadapan dengan Allah.

“Maka tatkala  mereka melupakan apa yang diberikan kepada mereka, kami pun kemudian membukakan pintu kesenangan untuk mereka, sehinga apabila mereka bergembira dengan apa diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan tidak disangka-sangka, maka ketika itu mereka terdiam berputus aza.”

Sumber: Mutiara

Related articles

December 8, 2012 Posted by | Mutiara Taskiyah | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

   

Mif19.tea's Blog

Just a Little Scientific Inspiration 4 You

KITa Call Indonesia

Seruan di Ufuk Fajar

Mrs Djones' Journey

Journey through marriage and motherhood~

d2cuthe blog

kesempatan tidak akan datang dua kali

Qalbunsalima's Blog

Hati yang damai, tentram dan sejahtera

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.